Arsip untuk ‘kesadaran’ Kategori

Di Mana Tuhan?

Juli 5, 2008

Seorang guru memberi pencerahan kepada penduduk kampung.

”Guru, tolong beri tahu saya bagaimana caranya saya bisa bertemu dengan Tuhan.”
”Apakah kamu punya saringan santan kelapa?”
”Punya, Guru.”
”Isilah saringan santan itu dengan air penuh. Setelah itu, kamu akan bisa bertemu Tuhan.”

Penduduk kampung itu heran. Mana mungkin kita bisa mengisi air penuh pada saringan santan? Tetapi penduduk itu tidak mau membantah guru yang sudah terkenal bijaksana itu.

Setelah pulang, penduduk kampung mencari saringan santan. Dia berusaha mengisi saringan itu dengan air. Selalu saja, air itu menerobos saringan. Kosong lagi. Tetapi penduduk itu yakin bahwa sang guru tidak main-main. Pasti ada pesan tersembunyi di balik tugas sulit itu.

Seminggu berlalu. Penduduk kampung itu belum berhasil mengisi saringan dengan air penuh. Dua minggu berlalu, belum juga berhasil. Satu bulan berlalu, belum juga berhasil.

Sang guru berkunjung lagi ke kampung itu untuk memberi pencerahan.

”Guru, ini saya bawa saringan santan. Tolong tunjukkan bagaimana cara untuk mengisinya dengan air penuh.”

Guru itu diam saja. Lalu mengambil saringan santan dari penduduk kampung itu.

”Ayo ikut saya!”

Penduduk kampung mengikuti guru berjalan. Terus berjalan sampai ke tepi laut. Kemudian guru itu memegang kuat-kuat saringan santan dan melemparnya ke laut.

”Lihat itu… sudah terisi penuh dengan air.”

Awalnya…Kesadaran

Mei 26, 2008

Selamat atas dibentuknya blog mengenai kesadaran dan kecerdasan ini kepada bpk admin :) semoga blog ini menjadi salah satu yang bermanfaat bagi yang membutuhkan, memang belum banyak blog yang mengulas mengenai “Kesadaran” , khususnya blog lokal…banyak orang memahami kesadaran dengan persepsinya masing-masing dan selalu berkembang pemahaman kesadaran seiring dengan perjalanan hidup yang dilaluinya, yah benar persepsi kesadaran tidak akan pernah sama secara realitanya, hal ini sangat tergantung pada pemahaman dan pemaknaan seseorang dalam menyikapi proses secara langsung maupun tidak langsung apa yang dihadapinya dalam hidup ini mengenai masalah dengan solusinya, reaksi yang dipikirkan dan dirasakannya kemudian direnungkan untuk dapat diambil hikmah beserta makna dibalik itu semua. kata kesadaran sudah tidak asing lagi kita dengar dan ucap dari kita kecil hingga dewasa.
Ambilah beberapa pernyataan yang sering terjadi antara lain :

1. “Entah apa yang terjadi pada saya, begitu saya SADAR, ternyata dompet saya telah lenyap”
2. “Semua orang melakukan hal tersebut, saya SADAR, sayapun harus melakukan hal yang sama”
3. “Sekarang baru saya SADAR bahwa perbuatan yang tidak baik memang akan menyulitkan diri kita sendiri”
4. “Sekarang saya SADAR, saya harus melakukan beberapa hal agar mendapat dukungan dari orang lain”
5. “Saya SADAR, ditempat suci seperti ini kita memang harus meningkatkan kualitas ibadah kita”
6. “Saya SADAR, saya terlalu bertindak berlebihan, saya akan merubah atau memperbaikinya”
7. “Saya SADAR, kita harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Inilah beberapa contoh bagaimana kita memaknai istilah SADAR dan KESADARAN, Sadar sering dilihat sebagai kondisi situasi bangun atau terjaga, semacam tanggapan reaktif terhadap situsi stimulus, acapkali stimulius berasal dari luar. Ada sebagian pernyataan diatas yang mewakili tanggapan reaktif yang lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal,  penempatan kesadaran sebagai perangkat yang beroperasi disatu waktu dan tidak beroperasi di waktu yang lain.

Keasadaran-reaktif seringkali dipicu oleh pengalaman, kebutuhan, dan nilai-nilai lokal, sifat lokal memang melekat kuat pada kesadaran-reaktif, karena jenis kesadaran ini ditambatkan pada berbagai elemen terbatas seperti emosi, trauma, harga diri, kebutuhan psikologis, ruang dan waktu dsb. bahkan contoh pernyataan yang terakhir yang tampak paling ideal dari semua contoh tersebut juga tak aman dari resikotercemar oleh nilai-nilai lokal, terutama jika sikap tersebut dilatarbelakangi oleh pengalaman traumatis dan kebutuhan individual. Keyakinan “sektarian misalnya, umumnya dilandasi oleh reaksi berlebihan terhadap pengalaman yang kurang menyenangkan, keyakinan ini biasanya ditularkan  secara sistematis kepada orang lain (yg mungkin tidak dimiliki oleh orang lain tersebut)

(Bersambung…)

(Tulisan di atas adalah kiriman dari salah seorang pembaca. Salam, admin)